TENTANG KAMI

Sejarah Paroki Tomang

Gunung Karmel yang menonjol ke arah barat laut dari Galilea (Israel) menuju Laut Tengah, terkenal karena kegiatan Nabi Elia (1 Raja-raja 18:16-46) dan keindahan tumbuhannya (Yesaya 35:2). Lerengnya penuh gua-gua sehingga sering didiami oleh para petapa.

Tidak diketahui dengan pasti kapan bermulanya para petapa itu hidup di situ, yang pasti sebelum zaman Nabi Elia sudah banyak orang-orang saleh yang berdiam dalam gua-gua di lereng Gunung Karmel. Berdasarkan penggalian dan penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan di wilayah Gunung Karmel, manusia telah hidup di gua-guanya sejak 150.000 tahun lalu. Bahkan beberapa gua disinyalir telah dihuni sejak 250.000 SM.

Kekudusan Gunung Karmel salah satunya disebabkan oleh adanya tradisi Kanaan kuno, atau tradisi kuno di hampir seluruh budaya, menganggap tempat tinggi sebagai tempat yang sakral. Dan Gunung Karmel tak terkecuali. Nuansa kekudusan itu makin dikentalkan dengan tak habisnya para pencari keheningan yang mengikuti teladan Elia, datang dan berdiam di dalam gua-gua itu.

Semangat hidup Elia, “Bersemuka dengan Allah dan bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan Semesta Alam” menyatu dalam hidup para petapa tersebut. Dalam keheningan, kesunyian, dan mengerjakan tugas-tugas pelayanan sebagai buah kontemplasi.

Buah-buah kontemplasi dari gua-gua Gunung Karmel itu bergulir ke seluruh dunia, dan salah satunya tumbuh di seputaran Tomang-Jakarta Barat.

Ketika daerah sekitar Tomang, Kebon Jeruk, Rawa Belong, dan Kelapa Dua dipandang pantas untuk dijadikan ladang persemaian misi. Maka pada tahun 1970 Ordo Karmel mengirim utusannya untuk berdialog dengan Keuskupan Agung Jakarta perihal pendirian sebuah paroki baru. Setahun kemudian pendataan umat dilakukan dan tercatatlah 70 KK atau 350 orang sebagai warga baru dan umat Paroki Tomang Barat Data-data tentang warga tersebut paroki diperoleh berkat ketekunan B. Soedijanto.

Pada bulan Januari 1972, untuk menjalankan misi dan mempersiapkan Paroki Tomang Barat, Ordo Karmel secara resmi menugaskan Pastor Carmelus Kwee Thiam Gie O.Carm, saat itu Pastor Kwee juga merangkap sebagai pastor pembantu di Paroki St. Christophorus-Grogol.

Meskipun mendapat bantuan modal awal dari KAJ, pinjaman dari Ordo Karmel Australia serta sumbangan umat, langkah Romo Kwee sedikit tersendat. Pada bulan Juli 1972 dibentuk Panitia Pembangunan Gereja dengan anggota Pastor Kwee, Mayor Sardjono, H. Kwee, FM Muliadi dan Ir. Hoo Boen Wie. Empat bulan kemudian, tepatnya pada 25 November 1972, KAJ mengeluarkan Surat Pengukuhan Pembentukan Paroki di wilayah Tomang Barat dengan nama Paroki Tomang-Gereja Maria Bunda Karmel.

Setelah melalui beberapa dialog dengan KAJ, kemudian pihak KAJ menyediakan lahan seluas 6.000 m2, namun karena letaknya tidak sentral dalam paroki dan luasnya tidak cukup untuk membangun gereja plus kompleks sekolah. Maka bersama beberapa umat Romo Kwee mencari jalan keluar untuk memperoleh sebidang tanah yang lebih luas dan lebih strategis di dalam paroki baru.

Sesudah berulang kali mendapat petunjuk dan arahan dari Dinas Tata Kota, barulah sedikit demi sedikit proyek ini dapat berjalan. Sesudah berkonsultasi dan mendapat banyak masukan dari beberapa ahli, akhirnya pada bulan Februari 1972, Pastor Kwee memutuskan untuk pergi ke Malang guna melakukan perundingan dengan pembesar-pembesar Ordo Karmel Indonesia. Setelah mendapat lampu hijau dari Malang, Romo Kwee mengajukan permohonan izin pembangunan Komplek Tempat Pendidikan dan Gereja di daerah Kebun Jeruk kepada Gubernur Jakarta (Surat tertanggal 28-3-1972).

Pada saat itu, menurut tata kota, di daerah Tomang Barat terdapat banyak areal estate. Lebih dari itu pemerintah provinsi Jakarta telah menetapkan area seluas 800 hektar di daerah Tomang Barat untuk perumahan. Atas dasar penetapan tersebut Romo Kwee berharap supaya mendapat izin membuka ± 10 Ha tanah yang akan dipergunakan untuk perumahan, 3 Ha untuk jalan dan jalur hijau dan 2 Ha untuk paroki. Modal permulaan diperoleh dari penjualan 6000 meter persegi itu, dengan izin Uskup Agung Jakarta, pinjaman dari Ordo Karmel Australia dan bantuan dari umat yang kemudian akan mendiami komplek perumahan.

Sampai di sini, cerita tentang pembebasan lahan terlihat kabur. Konon, pembebasan lahan yang diupayakan oleh Romo Kwee dan dibantu oleh beberapa umat yang masih aktif berdinas di Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) terbilang cukup berhasil. Menurut AY Soemedi, luas lahan yang berhasil dibebaskan, dari gereja ke sebelah Timur dibatasi oleh sungai hingga ke Selatan sampai Jalan Gili Sampeng. Ke arah Barat, berbatasan dengan Jalan Tosiga (Tomang City Garden). Logika sederhananya, keberadaan Jalan Karmel dan Jalan Sang Timur paling tidak merupakan bukti nyata pembebasan lahan yang dikerjakan oleh Romo Kwee dan timnya.

Sementara pembebasan lahan terus berjalan, permohonan ijin Romo Kwee disetujui oleh Gubernur DKI Jakarta, yang waktu itu dijabat oleh Ali Sadikin. Dibandingkan era sekarang memang mengurus ijin mendirikan gereja jauh lebih mudah.

Karena rencana pembangunan sekolah dan gereja sudah berjalan, para suster Sang Timur yang berpusat di Malang pun berdatangan untuk mendirikan dan menjalankan sekolah yang telah direncanakan sebelumnya. Karena di tanah yang baru (JI Karmel) belum tersedia jalan masuk, pada 21 November 1973 Romo Kwee kemudian membuat dan mengadakan sekolah darurat. Sekolah tersebut berdiri di Jl. Arjuna Selatan, di atas tanah milik NV Poesaka Aseli tembus ke Jl. Bima. Lokasi ini kemudian digunakan pula sebagai gereja sementara Paroki Tomang-MBK.

Sebulan sebelumnya, 23 Oktober 1973, Ordo Karmel mengutus Romo Hardowidagdo O.Carm untuk membantu Pastor Kwee sekaligus menunjuknya sebagai pastor Paroki Tomang Gereja Maria Bunda Karmel yang pertama.

Sebagai paroki yang masih muda, serba berkekurangan dan umat yang belum saling mengenal, Paroki Tomang Barat belum dapat memiliki badan pengurus paroki. Padahal, badan pengurus dinilai penting sebagai pihak yang menangani masalah-masalah yang terjadi dalam paroki.

Pada Natal 1973, Rm. Hardo berhasil membentuk suatu kepanitiaan perayaan Natal. Panitia ini merupakan cikal bakal terbentuknya Panitia Pembangunan Gereja (PPG) Gereja Maria Bunda Karmel. 3 Februari 1974 Misa kudus pertama di Susteran Sang Timur Jl. Tanjung Duren Timur. 1974 Gereja MBK menempati bangunan sementara di atas lahan pinjaman milik Ir. Firman Alamsjah di Jl. Arjuna Selatan – Jl. Bima. Jalan tol Jakarta-Serang belum – dibangun waktu itu. Sedangkan Pastoran Paroki – mengambil tempat sementara di Jl. Arjuna Utara 5-7 (rumah Talieb Halim).

Ketika dilakukan pembubaran kepanitiaan inilah kemudian dibentuk suatu kepanitiaan lain yang bertugas menyelenggarakan misa kudus di Jalan Arjuna, membentuk pengurus gereja dan Dewan Paroki serta mempersiapkan penyambutan Bapa Uskup yang akan berkunjung. Tugas kepanitiaan ini tidaklah ringan. Untuk keperluan misa saja, panitia harus mengadakan peralatan gereja melalui pengumpulan dana. Dana diperoleh dari kontribusi umat secara bulanan, penjualan koran bekas, tabungan anak-anak dan berbagai kegiatan lainnya. Misa kudus pertama akhirnya dapat diselenggarakan pada tanggal 3 Februari 1974.

Masa kerja yang ditetapkan untuk kepanitiaan tersebut hanya selama 2 bulan. Akan tetapi, tidak mungkin bagi panitia untuk menyelesaikan tugas besar dalam waktu singkat. Setelah umat sedikit demi sedikit berhasil dihimpun, barulah ditetapkan kepengurusan Dewan Paroki yang pertama pada tanggal 6 Juni 1975. Sebagai ketua merangkap bendahara adalah Rm. Hardo 0. Carm. B. Soebijanto terpilih menjadi sekretaris, sedangkan anggota lain adalah AJ. Soesetyo dan Th. D. Soekotjo.

Perjuangan umat saat itu memang sangat membanggakan. Meskipun bangunan gereja belum ada, hanya menempati bedeng yang sangat sederhana, umat sanggup bersusah payah mengikuti jalannya misa. Bangku yang disediakan untuk duduk menggunakan kursi anak-anak SD, bahkan ada bangku yang biasa digunakan di warung-warung pinggir jalan. Halaman dan tempat parkir mobil berada di lahan yang sekarang menjadi jalan tol Jakarta-Merak.

Gereja Betlehem, umat menyebutnya begitu karena bangunannya yang sangat sederhana. Beratap seng dan berdinding triplek. Pemandangan yang kontras akan terlihat mana kala misa berlangsung, umat yang datang banyak yang mengendarai mobil namun pergi ke gereja yang sangat-sangat sederhana.

Penyelenggaraan Misa di bedeng ini mempunyai keunikan cerita tersendiri. Setiap hari Sabtu diadakan pembongkaran kelas dan pengaturan ruangan menjadi tempat ibadah. Selain mempergunakan bangku kelas, dipergunakan pula kursi sewa sebanyak 150 buah. Uang untuk menyewa kursi diperoleh dari para dermawan.

Hari Minggu, setelah selesai misa gereja, kursi dikembalikan dan fungsinya dikembalikan menjadi kelas. Yang melakukan bongkar-pasang adalah warga paroki yang bekerja secara sukarela.

Bagi ketua DP pertama, Soebijanto, Gereja jalan Arjuna adalah paroki perjuangan. Yang amat mengesankan adalah setiap Minggu balapan sewa kursi. “Siapa yang paling dulu! Saya atau penyewa lain yang mau mengadakan pesta. Paling tidak 100 kursi lipat yang harus kami sewa setiap minggunya,” katanya mengenang masa lalu.

Soebijanto juga menambahkan bahwa gereja perjuangan hanya memiliki bangku panjang yang tidak cukup jumlahnya untuk menampung umat. “Cara duduknya juga lucu, dari ujung ke ujung harus duduk berbarengan. Kalau tidak? Ya, salah satu bisa terjatuh karena terjungkit (jawa:njomplang),” tambahnya.

VISI DAN MISI

Gereja Maria Bunda Karmel adalah persekutuan umat beriman
yang bertumbuh bersama dalam iman, harapan dan kasih, dalam
semangat doa, persaudaraan dan pelayanan.

Mengupayakan kehadiran Allah melalui hidup dan pewartaan kabar baik dalam peribadatan, persekutuan, pewartaan, kesaksian, dan pelayanan.

Membangun persaudaraan sejati yang terbuka bagi umat dari berbagai latar belakang dan golongan.

Menumbuhkan berbagai pelayanan yang memenuhi kebutuhan umat dan masyarakat sekitar dalam semangat kebersamaan, partisipasi aktif, dan berkesinambungan.

Melintasi Rintangan

Langkah-langkah awal

Langkah-langkah awal telah berjalan dengan baik, perjalanan Paroki Tomang bukannya tanpa hambatan. Romo Kwee yang telah dibantu oleh Romo. Hardowidagdo O.Carm dalam hal liturgi, agar bisa memusatkan perhatian penuh pada proyek pembangunan gereja dan pembuatan paroki baru.

Tak ada kaki yang tak terperosok saat melakukan perjalanan, tak ada mulut yang tak pernah mengecap pahit, begitu juga MBK. Pahit yang dirasakan justru datang di tempat yang paling peka, uang. Keuangan tidak terkelola dengan baik membuat kepercayaan umat kepada para gembalanya hilang. Acap kali didatangkan pater-pater dari Malang untuk membantu penyelesaian masalah ini, termasuk untuk mengembalikan pinjaman uang dari Ordo Karmel Australia.

Masalah lainnya adalah penentuan batas-batas paroki. Wilayah Paroki Tomang berasal dari wilayah Paroki Grogol, Jati Petamburan, Blok B dan berbagai wilayah lain yang belum diketahui batasnya. Penentuan batas paroki ternyata tidak mudah, karena paroki-paroki tetangga harus berpikir masak-masak sebelum menyerahkan sebagian wilayahnya kepada Parol Tomang Barat.

Batas paroki yang ditentukan kemudian adalah sebagai berikut:

Sebelah Utara: Jin. Tanjung Duren Raya dengan perpanjangannya ke arah barat

Sebelah Timur: Kali Grogol

Sebelah Selatan: Perpanjangan jalan raya depan TVRI Senayan ke arah barat

Sebelah Barat: Batas daerah Kabupaten Tangerang dengan Jakarta Barat.

Penetapan batas wilayah tersebut dalam beberapa hal kurang bisa diterima dengan baik oleh pimpinan paroki maupun umat. Akan tetapi, penetapan batas paroki ini adalah hasil maksimal yang dapat diperjuangkan oleh Romo Hardo.

Selain masalah batas paroki, ada pula masalah lain, yakni masih banyaknya tanah yang harus dibebaskan. Tanah yang tersedia baru seluas 1,4 hektar -target 10 Ha. Di tengah berbagai masalah ini, Romo Kwee meminta dispensasi untuk bebas dari imamat dan kaul biaranya. Karena Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto SJ menghendaki pimpinan proyek adalah seorang pastor, Romo Hardo kemudian diangkat untuk menggantikan Romo Kwee.

Pada tahun 1974 sudah diadakan perataan tanah, namun baru pada Maret 1975, jalan masuk ke tanah proyek dibangun. Tanpa menyia-nyiakan waktu, para Suster Sang Timur mulai membangun sebagian biara dan gedung sekolah SD dan SMP. Bantuan diperoleh dari Pemerintah DKI Jakarta.

Pada tanggal 26 Mei 1975 dibentuklah panitia baru yakni Ir. Hoo Boen Wie sebagai sekretaris, FM Muliadi sebagai bendahara dan C. Kwee (eks romo) serta Mayor Sardjono sebagai anggota. Kini kesulitan utama panitia adalah tidak memiliki dana.

Untungnya, pada akhir tahun 1975 Ordo Karmel Indonesia berkunjung ke Eropa. Di Eropa wakil Ordo Karmel Indonesia melobi setiap wakil provincial. Pendekatan pun berjalan sesuai dengan rencana, mengalirlah dana yang cukup banyak. Proyek Pembangunan gereja pun dapat diteruskan.

Akan tetapi, halangan ternyata belum berakhir. Pada bulan Februari 1976, C. Kwee yang dimintai pertanggungjawaban dalam hal dana. Yang bersangkutan ternyata tidak mampu memberi jawaban yang memuaskan sehingga terpaksa keluar dari keanggotaan panitia. Posisinya kemudian digantikan oleh Budislamet Wanandy.

Dengan ditariknya kembali Romo Hardo ke Jawa Timur, Romo Van Wessum O.Carm menggantikan tugasnya sebagai pimpinan proyek. Berbagai masalah yang timbul selama pengerjaan proyek lambat laun dapat diatasi. Pembangunan sekolah dapat diselesaikan pada tahun 1977. Bidang-bidang tanah untuk kelengkapan proyek dapat dibeli pada tahun 1979. Pembangunan jalan dan selokan selesai pada 1980.

Atas permintaan Walikota Jakarta Barat, disediakan tanah yang cukup luas untuk membangun sebuah puskesmas. PLN juga meminta sebidang tanah yang akan digunakan sebagai gardu listrik agar proyek dapat dialiri listrik.

Hasil keseluruhan proyek adalah tanah seluas 18.000 m2 untuk gereja, pastoran, sekretariat paroki, gedung serba guna, susteran serta gedung sekolah bagi TK, SD dan SMP. Meskipun realisasi rencana proyek dinilai berhasil, yang paling penting adalah pulihnya kepercayaan umat kepada para pekerja Tuhan di Paroki Tomang ini. Saat ini (2012) data arsip yang ada, gereja memiliki 2 surat Hak Milik Aula dengan luas 1.000 meter persegi dan gereja dengan luas 13.408 meter persegi.