
Pertobatan berarti berbalik dari kesalahan, mengarahkan diri pada jalan yang benar dan membangun masa depan yang lebih baik. Bapa Paus Fransiskus mengenalkan pertobatan ekologis (ecological repentance) sebagai konsep yang mencakup perubahan sikap, tindakan dan gaya hidup yang bertujuan untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan.
Pertobatan ekologis mendorong orang untuk membangun kesadaran dirinya untuk hidup sehat dengan alam semesta (LS 218) dan membangun rekonsiliasi dengan alam semesta.
Pertobatan ekologis mengajak manusia untuk menyadari 3 hal (LS 216). Pertama, mengaku dosa-dosa terhadap alam dan memperbaiki hubungan manusia dengan lingkungan. Kedua, mengajak setiap orang untuk menjalani kehidupan yang lebih seimbang dengan alam. Ketiga, mewujudkan tanggungjawab sosial dan spiritual terhadap lingkungan.
Pertobatan ekologis dapat dilakukan melalui tindakan-tindakan yang sederhana. Beberapa contohnya adalah: (1) mengurangi penggunaan plastik; (2) menghemat penggunaan energi; (3) mendukung inisiatif hijau – misalnya menanam pohon; (4) mengolah limbah dapur menjadi pupuk atau eco enzyme; dan (5) menghargai keberagaman hayati.
Sejumlah alternatif tindakan tersebut bukan hanya sekedar rutinitas atau menjalankannya begitu saja, tetapi semua itu harus dilakukan oleh manusia sebagai wujud cintanya kepada alam (LS 220). Cinta adalah kemampuan khusus yang diberikan Allah kepada manusia. Cinta akan mendorong manusia untuk membangun persaudaraan sejati dengan seluruh ciptaan (LS 221).
Sumber: (2025). Mateus Mali, CSsR. Ekoteologi. Mempertanggungjawabkan Iman yang Ekologis. Penerbit Kanisius.

Doa dan pertobatan ekologis dapat dilakukan kapan saja dalam kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari komitmen moral dan spiritual untuk merawat lingkungan. Dalam tradisi Gereja Katolik dan gerakan lingkungan hidup di Indonesia, ada waktu-waktu khusus yang sering ditekankan untuk mendoakan dan merenungkan keutuhan ciptaan. Beberapa contohnya adalah:
- Masa Prapaskah: sering dijadikan momentum retret atau pantang-berpuasa secara ekologis, seperti mengurangi sampah plastik dan hemat energi.
- Hari Bumi (22 April): waktu refleksi global untuk mendaraskan doa khusus pelestarian alam seperti Doa Pertobatan Ekologis dan Doa Rosario Laudato Si.
- Hari Lingkungan Hidup (5 Juni): momen yang digaungkan pemerintah dan lembaga keagamaan untuk memperbarui komitmen tobat ekologis.
- Bulan Kitab Suci Nasional – BKSN (September).
- Masa Penciptaan (Season of Creation): dalam konteks gerejawi (khususnya umat Katolik dan Kristen, ini adalah momen tahunan yang dirayakan dari tanggal 1 September (Hari Doa untuk Ciptaan – Day of Prayer for Creation) hingga 4 Oktober (Hari Peringatan Santo Fransiskus Asisi yang dikenal sebagai Santo pelindung ekologi, hewan dan lingkungan hidup): untuk berdoa dan merawat lingkungan hidup.
(dari berbagai sumber)
